Akhir kerja sama perusahaan Jepang, harus memulai lagi dari nol

/ 3 min / oleh

Akhir kerja sama perusahaan Jepang, harus memulai lagi dari nol
Foto bersama CEO Portament.JP

Minggu malam, tepat sebelum tidur, aku iseng memeriksa notifikasi di HP. Aku melihat namaku disebut dalam pesan Slack. Isi pesan tersebut kurang lebih:

“Setelah mendengar dari HR, kami memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan Anda”

Kesalahanku membuka Slack diwaktu yang tidak tepat, akibatnya aku overthinking dan tidak bisa tidur.

Aku baru saja kehilangan pekerjaan.

Kronologi

Singkatnya, ini adalah kali pertama aku bekerja sama dengan perusahaan dan menjadi bagian didalamnya setelah 5 tahun sebagai freelancer.

Meskipun bergabung dengan perusahaan, tapi secara kontrak aku tetap freelancer, hanya saja dengan waktu yang lebih panjang.

Pada dasarnya kontrak freelance tidak menguntungkan bagi perusahaan, mereka jadi tidak punya kendali atas pekerja.

Setahun berlalu, dan ketika mereka meminta pembaharuan kontrak, aku menolak dan lebih memilih menjadi freelancer, disaat itu lah manajemen membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan kerja.

Aku dinilai tidak bisa berkomitmen dengan perusahaan.

BTW, thumbnail diatas foto ku bersama Hatano-san (羽田野 朔) CEO Portament.JP saat aku berkunjung ke Jepang. Aku tidak punya masalah dengan CEO dan perusahaan tersebut secara personal, melainkan tim manajemennya, dia bahkan sangat menyangkan aku tidak bisa dipertahankan.

Alasan

Setelah bekerja sama selama setahun, aku menyadari kalau aku memang tidak cocok dengan perusahaan ini dan tidak bisa berkomitmen dalam kurun waktu yang lebih lama, aku malah berencana akan keluar lebih dulu dari perusahaan dalam beberapa bulan.

Tapi nampaknya langkah perusahaan lebih cepat dari dugaanku.

Mulai lagi

Sialnya aku harus mulai lagi dari awal mendadak tanpa persiapan.

Setelah mendengar kabar itu aku tidak bisa tidur dan terjaga semalaman.

Aku sudah berkeluarga, ada banyak tanggungan yang harus dibayar sebagai kepala keluarga.

Sehari setelah kehilangan pekerjaan, aku malah rebahan dan tidur seharian dikasur.

Sejak itu, Senin tidak lagi menyeramkan. Tidak ada lagi notifikasi Slack bertubi-tubi, tidak ada lagi menulis laporan harian, tidak ada lagi meeting mingguan diakhir pekan. Momen ini seperti hal yang sudah lama hilang dalam kehidupanku.

Disatu sisi aku merasa lega, disisi lain aku merasa tegang karena keluargaku kecilku ini butuh pemasukan.

Pelan-pelan aku mulai membenahi semua profile professionalku seperti di Upwork dan di LinkedIn, dan mulai aktif reachout lewat menulis Cover Letter lagi untuk 1-3 klien setiap hari. Meskipun awalnya tidak percaya diri dan takut tidak bisa berkompetisi.

Rejeki anak

Pesan dari klien di Upwork
Pesan dari klien di Upwork

Seminggu berlalu, tidak lama setelah 15 cover letters (biasanya ratusan CL) klien dengan proyek $2K datang, selang 2 minggu kemudian disusul dengan proyek lain dari teman yang juga nilai proyeknya lebih dari pendapatanku sebelumnya.

Ada hikmah dibalik kejadian ini. Instingku benar untuk segera resign dari perusahaan meskipun dengan sedikit beban mental.

Kesimpulan

Mungkin aku memang tidak pernah bisa berkomitmen dalam kurun waktu yang panjang. Aku mudah bosan, senang mencoba hal baru, dan menantang. Sepertinya aku masih ingin mencoba beragam proyek lagi.

Pengalaman ini memberiku banyak pelajaran. Mulai dari insight bisnis sampai pengalaman pemanfaatan teknologi AI dalam bekerja.

Kesimpulannya, ternyata ketakutan terbesar ku untuk meninggalkan pekerjaanku justru malah menjadi jalan bagi ku untuk mendapatkan hal yang lebih baik. Terkadang kita terlalu meng-underestimate kemampuan kita, pada akhirnya aku masih bisa-bisa aja mendapatkan pekerjaan dengan beban mental dan upah yang sangat jauh lebih baik.


© 2026 ekky.dev