Dua tahun berturut-turut lebaran di Jogja

/ 3 min / oleh

Dua tahun berturut-turut lebaran di Jogja
Foto bersama keluarga besar di Jogja

Tidak ada yang special di hari lebaran pertama.

Di hari pertama aku dan keluarga kecilku pergi ke Lapangan Karang, Kotagede dan melaksanakan sholat idul fitri disana mengikuti jadwal Muhamadiyah yang lebih cepat satu hari sebelum jadwal pemerintah.

Sholat Ied di Lapangan Karang, Kotagede, Yogyakarta
Sholat Ied di Lapangan Karang, Kotagede, Yogyakarta

Selepas itu, kami pulang dan saling bermaaf-maafan sebagaimana hal umum di hari raya. Tetangga tidak terlihat sedang merayakan hari raya juga, beberapa sudah ada yang mudik. Jalan didalam gang terlihat sepi.

Kami tidak memasak atau membeli cemilan. Tak lama dirumah kami beranjak kerumah mertua. Kakak iparku tidak pulang, padahal dia yang paling durhaka kepada ibunya tapi tidak juga menampakkan muka.

Setelah makan kami hanya rebahan tidak melakukan apa-apa lalu tertidur. Tidak ada satupun orang yang bertamu kerumah mertua. Ada yang berlalu lalang lewat depan rumah tapi orang itu tidak kami kenal.

Beberapa kemudian kami pulang, berbelanja ke supermarket ditengah perjalanan, Kyoda rewel karena kurang tidur, membuatku yang kurang tidur juga menjadi kesal lalu tertidur.

Sehari berlalu begitu saja.

Hari kedua kami diundang untuk datang kerumah pakde yang sedang sakit dan tidak bisa pergi kemana-mana. Kami berfoto keluarga sebentar lalu berangkat kesana. Ibu mertua ku sudah lebih dulu tiba naik sepeda motornya, usianya 62 tahun tapi masih sanggup berpergian berkendara.

Hari kedua agak berbeda. Sedikit lebih ramai dan cuaca sedikit lebih panas. Semua orang yang datang sepertinya terbiasa dengan ruangan ber-AC sehingga mereka terlihat tidak betah dan gerah.

Ada banyak makanan disana — kecuali minuman. Ada kulkas es krim di ruang tengah, setiap orang bebas mengambil sepuasnya. Aku sudah 5 tahun menikah dengan istriku dan mulai terbiasa dengan tradisi keluarga besarnya. Terkadang aku juga rindu momen lebaran dirumah. Ini tahun ke-2 aku tidak merayakan lebaran dirumah.

Tidak banyak percakapan yang bisa ku ikuti. Sesekali aku basa-basi tanya proyek, ternyata ada tawaran proyek tapi masih belum tahu apakah aku bisa mengambilnya atau tidak bulan depan. Timingnya kurang tepat.

Berbincang dengan bule Jerman
Berbincang dengan bule Jerman

Satu persatu berpamitan dan pulang. Salah seorang sepupu termuda istriku tiba-tiba membawa seorang perempuan Jerman bernama Julia dari entah berantah ke acara keluarga. Untungnya banyak yang bisa berbahasa Inggris. Tidak mengejutkan jika hampir semua orang dikeluarga ini bisa berbahasa Inggris bahkan si pakde dan bukde, kebanyakan sempat mengenyam pendidikan tinggi.

Aku pulang dengan pikiran membuat badan usaha melihat peluangnya dimasa depan.

Hari ketiga, nuansa sudah kembali normal, aku tidak punya sanak sodara atau rumah kerabat atau siapapun untuk dikunjungi, lagi pula aku juga sudah tidak punya energi untuk pergi kesana kemari.

Tiba-tiba salah seorang kawan ingin datang kerumah, tak ada sajian dimeja, seperti tidak terbiasa menjamu tamu, akhirnya aku pergi keluar dan belanja ke toko roti (Bakery).

Banyak toko yang masih tutup. Swalayan Mirota Kampus banyak stok yang sudah habis. Jalanan Jogja selatan terlihat sepi. Tapi anehnya tempat makanan berkuah seperti Bakso dan Mi Ayam selalu ramai dan penuh pengunjung. Memasuki daerah Prawirotaman ada banyak turis yang mungkin heran kenapa kota terlihat sepi.

Setelah menyusuri kota cukup jauh, akhirnya aku menemukan satu toko roti yang masih buka, Almond Bakery yang berada di utara Jl. Parang Tritis.

Cake dari Almond Bakery Parangtritis
Cake dari Almond Bakery Parangtritis

Sudah capek-capek belanja ternyata dia tidak jadi berkunjung. Tidak masalah, lagi pula kuenya enak aku bisa menikmatinya sendiri sambil minum teh hangat. Aku menghabiskan malam menonton film deketif, bermain bass, bahkan sempat bermain game sebelum tidur.

Disaat aku pikir “cerita ini tidak penting, aku tidak bakal sanggup menulisnya” bahkan sempat menundanya, tapi akhirnya ku tulis juga. Ternyata menulis juga membutuhkan pemaafan diri sendiri bahwa kita tidak sempurna.

Selamat lebaran. Terimakasih sudah membaca.


© 2026 ekky.dev