Tidak ada yang special di hari lebaran pertama. Di hari pertama aku dan keluarga kecilku pergi ke Lapangan Karang, Kotagede dan melaksanakan sholat idul fitri disana mengikuti jadwal Muhamadiyah yang lebih cepat satu hari sebelum jadwal pemerintah. Selepas itu, kami pulang dan saling bermaaf-maafan sebagaimana hal umum di hari raya. Tetangga tidak terlihat sedang merayakan hari raya juga, beberapa sudah ada yang mudik. Jalan didalam gang terlihat sepi. Kami tidak memasak atau membeli cemilan. Tak lama dirumah kami beranjak kerumah mertua. Kakak iparku tidak pulang, padahal dia yang paling durhaka kepada ibunya tapi tidak juga menampakkan muka. Setelah makan kami hanya rebahan tidak melakukan apa-apa lalu tertidur. Tidak ada satupun orang yang bertamu kerumah mertua. Ada yang berlalu lalang lewat depan rumah tapi orang itu tidak kami kenal. Beberapa kemudian kami pulang, berbelanja ke supermarket ditengah perjalanan, Kyoda rewel karena kurang tidur, membuatku yang kurang tidur juga menjadi kesal lalu tertidur. Sehari berlalu begitu saja.
Tidak ada yang special di hari lebaran pertama. Di hari pertama aku dan keluarga kecilku pergi ke Lapangan Karang, Kotagede dan melaksanakan sholat idul fitri disana mengikuti jadwal Muhamadiyah yang lebih cepat satu hari sebelum jadwal pemerintah. Selepas itu, kami pulang dan saling bermaaf-maafan sebagaimana hal umum di hari raya. Tetangga tidak terlihat sedang merayakan hari raya juga, beberapa sudah ada yang mudik. Jalan didalam gang terlihat sepi. Kami tidak memasak atau membeli cemilan. Tak lama dirumah kami beranjak kerumah mertua. Kakak iparku tidak pulang, padahal dia yang paling durhaka kepada ibunya tapi tidak juga menampakkan muka. Setelah makan kami hanya rebahan tidak melakukan apa-apa lalu tertidur. Tidak ada satupun orang yang bertamu kerumah mertua. Ada yang berlalu lalang lewat depan rumah tapi orang itu tidak kami kenal. Beberapa kemudian kami pulang, berbelanja ke supermarket ditengah perjalanan, Kyoda rewel karena kurang tidur, membuatku yang kurang tidur juga menjadi kesal lalu tertidur. Sehari berlalu begitu saja.
·2 min
Seminggu menganggur setelah dipecat
Sudah seminggu berlalu sejak resmi menganggur, dan dalam seminggu terakhir aku mulai punya energi kembali untuk mengoptimasi profile akun freelance ku. Aku mulai membenahi portfolio website ku, aktif posting artikel di LinkedIn, sampai melakukan riset pasar lagi di Upwork. Jujur sejak bergabung dengan perusahaan Jepang dan meninggalkan platform Upwork selama hampir satu tahun. Akibatnya menimbulkan semacam perasaan tidak percaya diri, khawatir, dan merasa tidak bisa berkompetisi lagi, karena sudah terlalu lama tidak aktif dan pastinya sudah banyak perubahan. Meskipun demikian, aku tidak seharusnya menyerah. Bagaimana pun juga aku harus melakukan sesuatu untuk segera mendapat pekerjaan baru. Aku tidak bisa kalau harus menunggu. Sedikit-sedikit aku mulai hunting job lagi.
Sudah seminggu berlalu sejak resmi menganggur, dan dalam seminggu terakhir aku mulai punya energi kembali untuk mengoptimasi profile akun freelance ku. Aku mulai membenahi portfolio website ku, aktif posting artikel di LinkedIn, sampai melakukan riset pasar lagi di Upwork. Jujur sejak bergabung dengan perusahaan Jepang dan meninggalkan platform Upwork selama hampir satu tahun. Akibatnya menimbulkan semacam perasaan tidak percaya diri, khawatir, dan merasa tidak bisa berkompetisi lagi, karena sudah terlalu lama tidak aktif dan pastinya sudah banyak perubahan. Meskipun demikian, aku tidak seharusnya menyerah. Bagaimana pun juga aku harus melakukan sesuatu untuk segera mendapat pekerjaan baru. Aku tidak bisa kalau harus menunggu. Sedikit-sedikit aku mulai hunting job lagi.
·1 min
Satu hari setelah di PHK
Hari ke-1 setelah di PHK. Aku menemukan diriku tidur nyenyak seharian tanpa merasa khawatir akan pekerjaan. Aku jadi punya banyak waktu bermain bersama anak. Tidak ada lagi notif Slack. Tidak ada lagi laporan harian. Momen ini seperti hal yang ku impikan sejak lama. Meskipun tidak dipungkiri, perasaan khawatir akan tidak adanya pemasukan di akhir bulan itu pasti ada. Belum lagi saat ini istri sedang mengandung anak ke-2, namun setidaknya tabunganku sudah cukup untuk biaya melahirkan dan sewa kontrakan. Aku bisa saja mendapatkan pekerjaan baru secepatnya. Tapi sepertinya aku ingin menikmati momen menganggur ini dulu beberapa saat. Untungnya fasilitas AI yang diberikan perusahaan masih ada sampai akhir bulan. Aku bisa menggunakannya cuma-cuma untuk melanjutkan pengembangkan mobile app ku sendiri. Diawal menerima fakta bahwa kontrak tidak akan dilanjut, ada perasaan nyesek, overthinking, dan mental breakdown. Tapi hanya butuh waktu satu hari untuk masalah tersebut bisa resolved. Karena sepertinya memang hal ini yang ku inginkan.
Hari ke-1 setelah di PHK. Aku menemukan diriku tidur nyenyak seharian tanpa merasa khawatir akan pekerjaan. Aku jadi punya banyak waktu bermain bersama anak. Tidak ada lagi notif Slack. Tidak ada lagi laporan harian. Momen ini seperti hal yang ku impikan sejak lama. Meskipun tidak dipungkiri, perasaan khawatir akan tidak adanya pemasukan di akhir bulan itu pasti ada. Belum lagi saat ini istri sedang mengandung anak ke-2, namun setidaknya tabunganku sudah cukup untuk biaya melahirkan dan sewa kontrakan. Aku bisa saja mendapatkan pekerjaan baru secepatnya. Tapi sepertinya aku ingin menikmati momen menganggur ini dulu beberapa saat. Untungnya fasilitas AI yang diberikan perusahaan masih ada sampai akhir bulan. Aku bisa menggunakannya cuma-cuma untuk melanjutkan pengembangkan mobile app ku sendiri. Diawal menerima fakta bahwa kontrak tidak akan dilanjut, ada perasaan nyesek, overthinking, dan mental breakdown. Tapi hanya butuh waktu satu hari untuk masalah tersebut bisa resolved. Karena sepertinya memang hal ini yang ku inginkan.
·2 min
Di PHK
Sejak kerja 9 to 5 aku jadi jarang membuka Slack di weekend dan hari libur. Terkadang notifikasi tetap masuk karena aku lupa mengaktifkan mode do not disturb. Entah kenapa Minggu malam tepat sebelum tidur aku malah memeriksa Slack. Aku duduk ditepi kasur di dalam kamar yang lampunya padam dan diterangi lampu yang agak sedikit remang. aku melihat nama ku dimention dalam baris pemberitahuan digawaiku. Singatknya ada direct message yang berisi: > "Setelah mendengar dari HR, kami memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan Anda." Tidak dilanjut? pikirku. Itu adalah satu-satunya kemungkinan yang tidak ku bayangkan. Padahal rencananya aku masih ingin bertahan 1-2 bulan lagi sebelum benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan. Namun sepertinya hal ini terjadi lebih awal dan aku tidak punya persiapan. Aku ingin membalas pesan tersebut tapi ku tunda sampai besok. Terlihat pesan dikirim pada jam 11:50 siang di hari Minggu. Badanku berbaring dikasur tapi pikiranku mulai berjalan kemana-mana sembari memproses pesan yang baru saja ku baca. Ada banyak hal yang tiba-tiba bermunculan dikepalaku yang membuatku gelisah.
Sejak kerja 9 to 5 aku jadi jarang membuka Slack di weekend dan hari libur. Terkadang notifikasi tetap masuk karena aku lupa mengaktifkan mode do not disturb. Entah kenapa Minggu malam tepat sebelum tidur aku malah memeriksa Slack. Aku duduk ditepi kasur di dalam kamar yang lampunya padam dan diterangi lampu yang agak sedikit remang. aku melihat nama ku dimention dalam baris pemberitahuan digawaiku. Singatknya ada direct message yang berisi: > "Setelah mendengar dari HR, kami memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan Anda." Tidak dilanjut? pikirku. Itu adalah satu-satunya kemungkinan yang tidak ku bayangkan. Padahal rencananya aku masih ingin bertahan 1-2 bulan lagi sebelum benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan. Namun sepertinya hal ini terjadi lebih awal dan aku tidak punya persiapan. Aku ingin membalas pesan tersebut tapi ku tunda sampai besok. Terlihat pesan dikirim pada jam 11:50 siang di hari Minggu. Badanku berbaring dikasur tapi pikiranku mulai berjalan kemana-mana sembari memproses pesan yang baru saja ku baca. Ada banyak hal yang tiba-tiba bermunculan dikepalaku yang membuatku gelisah.
·2 min
Masa Kopi
Sejak aku mulai berpenghasilan lebih, aku mulai berusaha untuk berkontribusi lebih banyak pada sebuah kafe kecil yang dulu menjadi saksi bisu perjuanganku sebagai pekerja lepas. Masa Kopi hanya berjarak lima menit naik motor dari tempatku tinggal. Semua pekerja remote yang tinggal dirumah bersama keluarga atau sodaranya, pasti mengerti betapa sulitnya kerja dengan distraksi dirumah. Satu-satunya solusi agar bisa tetap fokus adalah dengan bekerja dari kafe (Work From Cafe, WFC). Waktu itu aku masih itung-itungan soal harga, maklum saat itu masih merintis dan baru memulai. Aku selalu berpikir bagaimana caranya supaya bisa hemat kerja dari kafe. Sebagai siasat, aku selalu memesan kopi hitam panas (Americano) hampir setiap saat, karena itu satu-satunya menu yang harganya masih Rp14,000 per gelas disaat kopisop lain, mungkin sudah menjualnya diharga Rp25,000 keatas per gelas. Padahal dalam sekali berkunjung aku bisa menghabiskan waktu tiga sampai lima jam setiap hari.
Sejak aku mulai berpenghasilan lebih, aku mulai berusaha untuk berkontribusi lebih banyak pada sebuah kafe kecil yang dulu menjadi saksi bisu perjuanganku sebagai pekerja lepas. Masa Kopi hanya berjarak lima menit naik motor dari tempatku tinggal. Semua pekerja remote yang tinggal dirumah bersama keluarga atau sodaranya, pasti mengerti betapa sulitnya kerja dengan distraksi dirumah. Satu-satunya solusi agar bisa tetap fokus adalah dengan bekerja dari kafe (Work From Cafe, WFC). Waktu itu aku masih itung-itungan soal harga, maklum saat itu masih merintis dan baru memulai. Aku selalu berpikir bagaimana caranya supaya bisa hemat kerja dari kafe. Sebagai siasat, aku selalu memesan kopi hitam panas (Americano) hampir setiap saat, karena itu satu-satunya menu yang harganya masih Rp14,000 per gelas disaat kopisop lain, mungkin sudah menjualnya diharga Rp25,000 keatas per gelas. Padahal dalam sekali berkunjung aku bisa menghabiskan waktu tiga sampai lima jam setiap hari.
·7 min
Personalisasi Belajar dengan AI dan Obsidian
Bisa belajar apapun dibantu AI Sebagai pengguna Obsidian, nemu community plugin Text Generator rasanya jadi sangat terbantu. Alih-alih harus subscribe layanan AI, kalo bisa bayar sesuai penggunaan kenapa harus bayar $20 sebulan, ya kan? Cukup pake API Key dari provider manapun. Kalo saya prefer pake provider OpenRouter, topup $10 sekali bisa dipake 1 sampai 3 bulan. Jadi ceritanya saya seorang programmer tapi ingin belajar marketing dan positioining. Suatu waktu saya punya pertanyaan dalam benak saya. > "Penggunaan istilah "What I do" itu umumnya buat apa sih di marketing?" Di Obsidian tinggal tekan cmd+j, catatan kita otomatis jadi konteks buat si AI. Kalo mau dilanjutin, tinggal tanya lagi dibagian bawah setelah jawaban AI..
Bisa belajar apapun dibantu AI Sebagai pengguna Obsidian, nemu community plugin Text Generator rasanya jadi sangat terbantu. Alih-alih harus subscribe layanan AI, kalo bisa bayar sesuai penggunaan kenapa harus bayar $20 sebulan, ya kan? Cukup pake API Key dari provider manapun. Kalo saya prefer pake provider OpenRouter, topup $10 sekali bisa dipake 1 sampai 3 bulan. Jadi ceritanya saya seorang programmer tapi ingin belajar marketing dan positioining. Suatu waktu saya punya pertanyaan dalam benak saya. > "Penggunaan istilah "What I do" itu umumnya buat apa sih di marketing?" Di Obsidian tinggal tekan cmd+j, catatan kita otomatis jadi konteks buat si AI. Kalo mau dilanjutin, tinggal tanya lagi dibagian bawah setelah jawaban AI..
·3 min
Belajar koding di era AI
Lima tahun sudah berlalu dan jika diingat-ingat rasanya tidak sia-sia waktu itu memutuskan untuk masuk ke industri IT dan menjadi programmer. Saya justru baru menemukan minat di usia 25 tahun setelah saya lulus kuliah. Sebagai lulusan Teknik Industri, saya benar-benar belajar segala sesuatunya dari 0. Saya belajar otodidak pagi dan malam selama berbulan-bulan, tanpa bootcamp (karena tidak ada uang), belajar pun hanya dari Youtube, Udemy, dan blogs. Setelah tiga bulan belajar otodidak, bermodalkan bisa scripting python dan pengetahuan memanipulasi data. Saya langsung mencoba menjadi freelancer dan mencari klien. Sembari melakukan riset tentang skill apa yang saat itu dibutuhkan oleh pasar. Pelan-pelan saya mulai paham konsep database, data engineering, automation, lalu di tahun ketiga saya sudah bisa web development hingga akhirnya saya menjadi Full-stack Developer seperti sekarang. Apa yang menjadi motivasi saya waktu itu adalah kalau saya bisa belajar lebih keras dan kerja lebih keras mungkin nilai diri akan naik. Maksudnya saya pasti akan jadi lebih terampil, dan bisa menjadi solusi untuk masalah bisnis orang lain.
Lima tahun sudah berlalu dan jika diingat-ingat rasanya tidak sia-sia waktu itu memutuskan untuk masuk ke industri IT dan menjadi programmer. Saya justru baru menemukan minat di usia 25 tahun setelah saya lulus kuliah. Sebagai lulusan Teknik Industri, saya benar-benar belajar segala sesuatunya dari 0. Saya belajar otodidak pagi dan malam selama berbulan-bulan, tanpa bootcamp (karena tidak ada uang), belajar pun hanya dari Youtube, Udemy, dan blogs. Setelah tiga bulan belajar otodidak, bermodalkan bisa scripting python dan pengetahuan memanipulasi data. Saya langsung mencoba menjadi freelancer dan mencari klien. Sembari melakukan riset tentang skill apa yang saat itu dibutuhkan oleh pasar. Pelan-pelan saya mulai paham konsep database, data engineering, automation, lalu di tahun ketiga saya sudah bisa web development hingga akhirnya saya menjadi Full-stack Developer seperti sekarang. Apa yang menjadi motivasi saya waktu itu adalah kalau saya bisa belajar lebih keras dan kerja lebih keras mungkin nilai diri akan naik. Maksudnya saya pasti akan jadi lebih terampil, dan bisa menjadi solusi untuk masalah bisnis orang lain.
·2 min
Tumbang juga akhirnya
Sebab suatu faktor, aku yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba demam tinggi dan harus di dirujuk kerumah sakit. Sekujur tubuhku sakit, luar dan dalam. Di hari pertama aku demam dari pagi hingga malam. Lidahku kelu, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Dan batukku berdahak disertai bercak darah. Vonis dokter awal, "gejala TBC". Namun setelah di screening ternyata riwayat penyakit lama -- bronchitis, penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, lebih tepatnya ada bakteri diparu-paru. Hasil ronsen menunjukkan ada flek atau semacam inflamasi pada bagian paru-paru ku. Ini kesekian kalinya setelah 8 tahun kemudian. Menyebabkan aku tidak bisa bekerja lebih dari 2 jam selama 3 hari. Jika dipaksakan badanku akan kelelahan atau langsung panas tinggi. Dan selama tidak ada kegiatan, yang ku lakukan hanyalah bengong. Melihat langit-langit dari lantai dua, melihat awan, melihat tower jaringan, melihat pohon. Bisa hampir satu jam. Sambil merasakan sakit kepala. Membuatku merenungkan banyak hal. Tentang kematian, tentang anak, tentang keluarga kecilku. Jika aku mati, mereka akan bagaimana? tanyaku dalam benak
Sebab suatu faktor, aku yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba demam tinggi dan harus di dirujuk kerumah sakit. Sekujur tubuhku sakit, luar dan dalam. Di hari pertama aku demam dari pagi hingga malam. Lidahku kelu, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Dan batukku berdahak disertai bercak darah. Vonis dokter awal, "gejala TBC". Namun setelah di screening ternyata riwayat penyakit lama -- bronchitis, penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, lebih tepatnya ada bakteri diparu-paru. Hasil ronsen menunjukkan ada flek atau semacam inflamasi pada bagian paru-paru ku. Ini kesekian kalinya setelah 8 tahun kemudian. Menyebabkan aku tidak bisa bekerja lebih dari 2 jam selama 3 hari. Jika dipaksakan badanku akan kelelahan atau langsung panas tinggi. Dan selama tidak ada kegiatan, yang ku lakukan hanyalah bengong. Melihat langit-langit dari lantai dua, melihat awan, melihat tower jaringan, melihat pohon. Bisa hampir satu jam. Sambil merasakan sakit kepala. Membuatku merenungkan banyak hal. Tentang kematian, tentang anak, tentang keluarga kecilku. Jika aku mati, mereka akan bagaimana? tanyaku dalam benak
·1 min
Pekerja Kontrak vs Freelancer
Bedanya Pekerja Kontrak dengan Freelancer itu ibarat Harimau yang diberi makan vs Harimau yang cari makannya sendiri di hutan belantara. Sama-sama Harimau tapi Harimau yang selalu diberi makan perlahan akan kehilangan insting berburunya. Dengan kata lain pekerja kontrak sangat bergantung pada retainer atau gaji bulanan. Sedangkan freelancer, ga kerja ya ga makan. Dengan adanya kepastian kontrak kerja yang akan berlangsung 6-12 bulan kedepan dan digajih tiap bulannya. Seorang pekerja kontrak akan merasa aman sehingga merasa tidak perlu khawatir untuk mencari perkerjaan lagi. Itu yang saya pikirkan dalam beberapa bulan terakhir setelah saya mendapat pekerjaan yang bukan lagi freelance tapi kontrak full-time. Saya jadi jarang bikin konten di sosial media, saya jadi tidak merasa urgent untuk mencari kerja lagi (toh saya sudah dapat kontrak kerja). Saya kadang bahkan merasa tidak urgent untuk upgrade skill lagi.
Bedanya Pekerja Kontrak dengan Freelancer itu ibarat Harimau yang diberi makan vs Harimau yang cari makannya sendiri di hutan belantara. Sama-sama Harimau tapi Harimau yang selalu diberi makan perlahan akan kehilangan insting berburunya. Dengan kata lain pekerja kontrak sangat bergantung pada retainer atau gaji bulanan. Sedangkan freelancer, ga kerja ya ga makan. Dengan adanya kepastian kontrak kerja yang akan berlangsung 6-12 bulan kedepan dan digajih tiap bulannya. Seorang pekerja kontrak akan merasa aman sehingga merasa tidak perlu khawatir untuk mencari perkerjaan lagi. Itu yang saya pikirkan dalam beberapa bulan terakhir setelah saya mendapat pekerjaan yang bukan lagi freelance tapi kontrak full-time. Saya jadi jarang bikin konten di sosial media, saya jadi tidak merasa urgent untuk mencari kerja lagi (toh saya sudah dapat kontrak kerja). Saya kadang bahkan merasa tidak urgent untuk upgrade skill lagi.
·2 min
WFC #1 bersama komunitas Python Jogja
Hari Sabtu 12 Juli 2025. Disaat orang lain memilih libur, mas Lutfi Zuchri Python Jogja justru mengadakan agenda Work From Cafe (WFC), mungkin supaya komunitas Python tidak melulu tentang conference/talks. Sesekali juga perlu mengikuti trend kerja dari kafe yang mulai menjadi gaya hidup pekerja remote di Jogja. Seperti yang ku duga, dari 10 orang yang datang hanya 2-3 orang yang beneran kerja. Beberapa masih belum tau apa yang akan dikerjakan, beberapa yang lain tidak bisa bekerja, dan bahkan ada yang tidak bawa laptop sama sekali. Tapi itu bukan persoalan, lagi pula agenda ini juga baru kali pertama. Masih perlu penyesuaian. Acara kali ini lebih banyak mengobrol -- ketimbang work -- tentang PyCon luar negeri, gambaran bagaimana proposal di review (ternyata beliau juga reviewer, wow sih), lalu ada juga pemabahasan tentang apa saja persiapan untuk menghadiri PyCon yang ada diluar negeri. Sisanya membahas tentang acara komunitas yang akan diadakan dalam beberapa waktu dekat, kegiatan lain yang bisa diadakan oleh komunitas Python Jogja, juga diskusi mengenai sedikit teknis ketika mengadakan acara, dsb.
Hari Sabtu 12 Juli 2025. Disaat orang lain memilih libur, mas Lutfi Zuchri Python Jogja justru mengadakan agenda Work From Cafe (WFC), mungkin supaya komunitas Python tidak melulu tentang conference/talks. Sesekali juga perlu mengikuti trend kerja dari kafe yang mulai menjadi gaya hidup pekerja remote di Jogja. Seperti yang ku duga, dari 10 orang yang datang hanya 2-3 orang yang beneran kerja. Beberapa masih belum tau apa yang akan dikerjakan, beberapa yang lain tidak bisa bekerja, dan bahkan ada yang tidak bawa laptop sama sekali. Tapi itu bukan persoalan, lagi pula agenda ini juga baru kali pertama. Masih perlu penyesuaian. Acara kali ini lebih banyak mengobrol -- ketimbang work -- tentang PyCon luar negeri, gambaran bagaimana proposal di review (ternyata beliau juga reviewer, wow sih), lalu ada juga pemabahasan tentang apa saja persiapan untuk menghadiri PyCon yang ada diluar negeri. Sisanya membahas tentang acara komunitas yang akan diadakan dalam beberapa waktu dekat, kegiatan lain yang bisa diadakan oleh komunitas Python Jogja, juga diskusi mengenai sedikit teknis ketika mengadakan acara, dsb.