Tidak ada yang special di hari lebaran pertama. Di hari pertama aku dan keluarga kecilku pergi ke Lapangan Karang, Kotagede dan melaksanakan sholat idul fitri disana mengikuti jadwal Muhamadiyah yang lebih cepat satu hari sebelum jadwal pemerintah. Selepas itu, kami pulang dan saling bermaaf-maafan sebagaimana hal umum di hari raya. Tetangga tidak terlihat sedang merayakan hari raya juga, beberapa sudah ada yang mudik. Jalan didalam gang terlihat sepi. Kami tidak memasak atau membeli cemilan. Tak lama dirumah kami beranjak kerumah mertua. Kakak iparku tidak pulang, padahal dia yang paling durhaka kepada ibunya tapi tidak juga menampakkan muka. Setelah makan kami hanya rebahan tidak melakukan apa-apa lalu tertidur. Tidak ada satupun orang yang bertamu kerumah mertua. Ada yang berlalu lalang lewat depan rumah tapi orang itu tidak kami kenal. Beberapa kemudian kami pulang, berbelanja ke supermarket ditengah perjalanan, Kyoda rewel karena kurang tidur, membuatku yang kurang tidur juga menjadi kesal lalu tertidur. Sehari berlalu begitu saja.
Tidak ada yang special di hari lebaran pertama. Di hari pertama aku dan keluarga kecilku pergi ke Lapangan Karang, Kotagede dan melaksanakan sholat idul fitri disana mengikuti jadwal Muhamadiyah yang lebih cepat satu hari sebelum jadwal pemerintah. Selepas itu, kami pulang dan saling bermaaf-maafan sebagaimana hal umum di hari raya. Tetangga tidak terlihat sedang merayakan hari raya juga, beberapa sudah ada yang mudik. Jalan didalam gang terlihat sepi. Kami tidak memasak atau membeli cemilan. Tak lama dirumah kami beranjak kerumah mertua. Kakak iparku tidak pulang, padahal dia yang paling durhaka kepada ibunya tapi tidak juga menampakkan muka. Setelah makan kami hanya rebahan tidak melakukan apa-apa lalu tertidur. Tidak ada satupun orang yang bertamu kerumah mertua. Ada yang berlalu lalang lewat depan rumah tapi orang itu tidak kami kenal. Beberapa kemudian kami pulang, berbelanja ke supermarket ditengah perjalanan, Kyoda rewel karena kurang tidur, membuatku yang kurang tidur juga menjadi kesal lalu tertidur. Sehari berlalu begitu saja.
·3 min
Akhir kerja sama perusahaan Jepang, harus memulai lagi dari nol
Minggu malam, tepat sebelum tidur, aku iseng memeriksa notifikasi di HP. Aku melihat namaku disebut dalam pesan Slack. Isi pesan tersebut kurang lebih: > "Setelah mendengar dari HR, kami memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan Anda" Kesalahanku membuka Slack diwaktu yang tidak tepat, akibatnya aku overthinking dan tidak bisa tidur. Aku baru saja kehilangan pekerjaan. Singkatnya, ini adalah kali pertama aku bekerja sama dengan perusahaan dan menjadi bagian didalamnya setelah 5 tahun sebagai freelancer. Meskipun bergabung dengan perusahaan, tapi secara kontrak aku tetap freelancer, hanya saja dengan waktu yang lebih panjang. Pada dasarnya kontrak freelance tidak menguntungkan bagi perusahaan, mereka jadi tidak punya kendali atas pekerja. Setahun berlalu, dan ketika mereka meminta pembaharuan kontrak, aku menolak dan lebih memilih menjadi freelancer, disaat itu lah manajemen membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan kerja. Aku dinilai tidak bisa berkomitmen dengan perusahaan.
Minggu malam, tepat sebelum tidur, aku iseng memeriksa notifikasi di HP. Aku melihat namaku disebut dalam pesan Slack. Isi pesan tersebut kurang lebih: > "Setelah mendengar dari HR, kami memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan Anda" Kesalahanku membuka Slack diwaktu yang tidak tepat, akibatnya aku overthinking dan tidak bisa tidur. Aku baru saja kehilangan pekerjaan. Singkatnya, ini adalah kali pertama aku bekerja sama dengan perusahaan dan menjadi bagian didalamnya setelah 5 tahun sebagai freelancer. Meskipun bergabung dengan perusahaan, tapi secara kontrak aku tetap freelancer, hanya saja dengan waktu yang lebih panjang. Pada dasarnya kontrak freelance tidak menguntungkan bagi perusahaan, mereka jadi tidak punya kendali atas pekerja. Setahun berlalu, dan ketika mereka meminta pembaharuan kontrak, aku menolak dan lebih memilih menjadi freelancer, disaat itu lah manajemen membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan kerja. Aku dinilai tidak bisa berkomitmen dengan perusahaan.
·2 min
Masa Kopi
Sejak aku mulai berpenghasilan lebih, aku mulai berusaha untuk berkontribusi lebih banyak pada sebuah kafe kecil yang dulu menjadi saksi bisu perjuanganku sebagai pekerja lepas. Masa Kopi hanya berjarak lima menit naik motor dari tempatku tinggal. Semua pekerja remote yang tinggal dirumah bersama keluarga atau sodaranya, pasti mengerti betapa sulitnya kerja dengan distraksi dirumah. Satu-satunya solusi agar bisa tetap fokus adalah dengan bekerja dari kafe (Work From Cafe, WFC). Waktu itu aku masih itung-itungan soal harga, maklum saat itu masih merintis dan baru memulai. Aku selalu berpikir bagaimana caranya supaya bisa hemat kerja dari kafe. Sebagai siasat, aku selalu memesan kopi hitam panas (Americano) hampir setiap saat, karena itu satu-satunya menu yang harganya masih Rp14,000 per gelas disaat kopisop lain, mungkin sudah menjualnya diharga Rp25,000 keatas per gelas. Padahal dalam sekali berkunjung aku bisa menghabiskan waktu tiga sampai lima jam setiap hari.
Sejak aku mulai berpenghasilan lebih, aku mulai berusaha untuk berkontribusi lebih banyak pada sebuah kafe kecil yang dulu menjadi saksi bisu perjuanganku sebagai pekerja lepas. Masa Kopi hanya berjarak lima menit naik motor dari tempatku tinggal. Semua pekerja remote yang tinggal dirumah bersama keluarga atau sodaranya, pasti mengerti betapa sulitnya kerja dengan distraksi dirumah. Satu-satunya solusi agar bisa tetap fokus adalah dengan bekerja dari kafe (Work From Cafe, WFC). Waktu itu aku masih itung-itungan soal harga, maklum saat itu masih merintis dan baru memulai. Aku selalu berpikir bagaimana caranya supaya bisa hemat kerja dari kafe. Sebagai siasat, aku selalu memesan kopi hitam panas (Americano) hampir setiap saat, karena itu satu-satunya menu yang harganya masih Rp14,000 per gelas disaat kopisop lain, mungkin sudah menjualnya diharga Rp25,000 keatas per gelas. Padahal dalam sekali berkunjung aku bisa menghabiskan waktu tiga sampai lima jam setiap hari.
·7 min
Personalisasi Belajar dengan AI dan Obsidian
Bisa belajar apapun dibantu AI Sebagai pengguna Obsidian, nemu community plugin Text Generator rasanya jadi sangat terbantu. Alih-alih harus subscribe layanan AI, kalo bisa bayar sesuai penggunaan kenapa harus bayar $20 sebulan, ya kan? Cukup pake API Key dari provider manapun. Kalo saya prefer pake provider OpenRouter, topup $10 sekali bisa dipake 1 sampai 3 bulan. Jadi ceritanya saya seorang programmer tapi ingin belajar marketing dan positioining. Suatu waktu saya punya pertanyaan dalam benak saya. > "Penggunaan istilah "What I do" itu umumnya buat apa sih di marketing?" Di Obsidian tinggal tekan cmd+j, catatan kita otomatis jadi konteks buat si AI. Kalo mau dilanjutin, tinggal tanya lagi dibagian bawah setelah jawaban AI..
Bisa belajar apapun dibantu AI Sebagai pengguna Obsidian, nemu community plugin Text Generator rasanya jadi sangat terbantu. Alih-alih harus subscribe layanan AI, kalo bisa bayar sesuai penggunaan kenapa harus bayar $20 sebulan, ya kan? Cukup pake API Key dari provider manapun. Kalo saya prefer pake provider OpenRouter, topup $10 sekali bisa dipake 1 sampai 3 bulan. Jadi ceritanya saya seorang programmer tapi ingin belajar marketing dan positioining. Suatu waktu saya punya pertanyaan dalam benak saya. > "Penggunaan istilah "What I do" itu umumnya buat apa sih di marketing?" Di Obsidian tinggal tekan cmd+j, catatan kita otomatis jadi konteks buat si AI. Kalo mau dilanjutin, tinggal tanya lagi dibagian bawah setelah jawaban AI..
·3 min
Belajar koding di era AI
Lima tahun sudah berlalu dan jika diingat-ingat rasanya tidak sia-sia waktu itu memutuskan untuk masuk ke industri IT dan menjadi programmer. Saya justru baru menemukan minat di usia 25 tahun setelah saya lulus kuliah. Sebagai lulusan Teknik Industri, saya benar-benar belajar segala sesuatunya dari 0. Saya belajar otodidak pagi dan malam selama berbulan-bulan, tanpa bootcamp (karena tidak ada uang), belajar pun hanya dari Youtube, Udemy, dan blogs. Setelah tiga bulan belajar otodidak, bermodalkan bisa scripting python dan pengetahuan memanipulasi data. Saya langsung mencoba menjadi freelancer dan mencari klien. Sembari melakukan riset tentang skill apa yang saat itu dibutuhkan oleh pasar. Pelan-pelan saya mulai paham konsep database, data engineering, automation, lalu di tahun ketiga saya sudah bisa web development hingga akhirnya saya menjadi Full-stack Developer seperti sekarang. Apa yang menjadi motivasi saya waktu itu adalah kalau saya bisa belajar lebih keras dan kerja lebih keras mungkin nilai diri akan naik. Maksudnya saya pasti akan jadi lebih terampil, dan bisa menjadi solusi untuk masalah bisnis orang lain.
Lima tahun sudah berlalu dan jika diingat-ingat rasanya tidak sia-sia waktu itu memutuskan untuk masuk ke industri IT dan menjadi programmer. Saya justru baru menemukan minat di usia 25 tahun setelah saya lulus kuliah. Sebagai lulusan Teknik Industri, saya benar-benar belajar segala sesuatunya dari 0. Saya belajar otodidak pagi dan malam selama berbulan-bulan, tanpa bootcamp (karena tidak ada uang), belajar pun hanya dari Youtube, Udemy, dan blogs. Setelah tiga bulan belajar otodidak, bermodalkan bisa scripting python dan pengetahuan memanipulasi data. Saya langsung mencoba menjadi freelancer dan mencari klien. Sembari melakukan riset tentang skill apa yang saat itu dibutuhkan oleh pasar. Pelan-pelan saya mulai paham konsep database, data engineering, automation, lalu di tahun ketiga saya sudah bisa web development hingga akhirnya saya menjadi Full-stack Developer seperti sekarang. Apa yang menjadi motivasi saya waktu itu adalah kalau saya bisa belajar lebih keras dan kerja lebih keras mungkin nilai diri akan naik. Maksudnya saya pasti akan jadi lebih terampil, dan bisa menjadi solusi untuk masalah bisnis orang lain.
·2 min
Tumbang juga akhirnya
Sebab suatu faktor, aku yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba demam tinggi dan harus di dirujuk kerumah sakit. Sekujur tubuhku sakit, luar dan dalam. Di hari pertama aku demam dari pagi hingga malam. Lidahku kelu, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Dan batukku berdahak disertai bercak darah. Vonis dokter awal, "gejala TBC". Namun setelah di screening ternyata riwayat penyakit lama -- bronchitis, penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, lebih tepatnya ada bakteri diparu-paru. Hasil ronsen menunjukkan ada flek atau semacam inflamasi pada bagian paru-paru ku. Ini kesekian kalinya setelah 8 tahun kemudian. Menyebabkan aku tidak bisa bekerja lebih dari 2 jam selama 3 hari. Jika dipaksakan badanku akan kelelahan atau langsung panas tinggi. Dan selama tidak ada kegiatan, yang ku lakukan hanyalah bengong. Melihat langit-langit dari lantai dua, melihat awan, melihat tower jaringan, melihat pohon. Bisa hampir satu jam. Sambil merasakan sakit kepala. Membuatku merenungkan banyak hal. Tentang kematian, tentang anak, tentang keluarga kecilku. Jika aku mati, mereka akan bagaimana? tanyaku dalam benak
Sebab suatu faktor, aku yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba demam tinggi dan harus di dirujuk kerumah sakit. Sekujur tubuhku sakit, luar dan dalam. Di hari pertama aku demam dari pagi hingga malam. Lidahku kelu, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Dan batukku berdahak disertai bercak darah. Vonis dokter awal, "gejala TBC". Namun setelah di screening ternyata riwayat penyakit lama -- bronchitis, penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, lebih tepatnya ada bakteri diparu-paru. Hasil ronsen menunjukkan ada flek atau semacam inflamasi pada bagian paru-paru ku. Ini kesekian kalinya setelah 8 tahun kemudian. Menyebabkan aku tidak bisa bekerja lebih dari 2 jam selama 3 hari. Jika dipaksakan badanku akan kelelahan atau langsung panas tinggi. Dan selama tidak ada kegiatan, yang ku lakukan hanyalah bengong. Melihat langit-langit dari lantai dua, melihat awan, melihat tower jaringan, melihat pohon. Bisa hampir satu jam. Sambil merasakan sakit kepala. Membuatku merenungkan banyak hal. Tentang kematian, tentang anak, tentang keluarga kecilku. Jika aku mati, mereka akan bagaimana? tanyaku dalam benak
·1 min
Pekerja Kontrak vs Freelancer
Bedanya Pekerja Kontrak dengan Freelancer itu ibarat Harimau yang diberi makan vs Harimau yang cari makannya sendiri di hutan belantara. Sama-sama Harimau tapi Harimau yang selalu diberi makan perlahan akan kehilangan insting berburunya. Dengan kata lain pekerja kontrak sangat bergantung pada retainer atau gaji bulanan. Sedangkan freelancer, ga kerja ya ga makan. Dengan adanya kepastian kontrak kerja yang akan berlangsung 6-12 bulan kedepan dan digajih tiap bulannya. Seorang pekerja kontrak akan merasa aman sehingga merasa tidak perlu khawatir untuk mencari perkerjaan lagi. Itu yang saya pikirkan dalam beberapa bulan terakhir setelah saya mendapat pekerjaan yang bukan lagi freelance tapi kontrak full-time. Saya jadi jarang bikin konten di sosial media, saya jadi tidak merasa urgent untuk mencari kerja lagi (toh saya sudah dapat kontrak kerja). Saya kadang bahkan merasa tidak urgent untuk upgrade skill lagi.
Bedanya Pekerja Kontrak dengan Freelancer itu ibarat Harimau yang diberi makan vs Harimau yang cari makannya sendiri di hutan belantara. Sama-sama Harimau tapi Harimau yang selalu diberi makan perlahan akan kehilangan insting berburunya. Dengan kata lain pekerja kontrak sangat bergantung pada retainer atau gaji bulanan. Sedangkan freelancer, ga kerja ya ga makan. Dengan adanya kepastian kontrak kerja yang akan berlangsung 6-12 bulan kedepan dan digajih tiap bulannya. Seorang pekerja kontrak akan merasa aman sehingga merasa tidak perlu khawatir untuk mencari perkerjaan lagi. Itu yang saya pikirkan dalam beberapa bulan terakhir setelah saya mendapat pekerjaan yang bukan lagi freelance tapi kontrak full-time. Saya jadi jarang bikin konten di sosial media, saya jadi tidak merasa urgent untuk mencari kerja lagi (toh saya sudah dapat kontrak kerja). Saya kadang bahkan merasa tidak urgent untuk upgrade skill lagi.
·2 min
WFC #1 bersama komunitas Python Jogja
Hari Sabtu 12 Juli 2025. Disaat orang lain memilih libur, mas Lutfi Zuchri Python Jogja justru mengadakan agenda Work From Cafe (WFC), mungkin supaya komunitas Python tidak melulu tentang conference/talks. Sesekali juga perlu mengikuti trend kerja dari kafe yang mulai menjadi gaya hidup pekerja remote di Jogja. Seperti yang ku duga, dari 10 orang yang datang hanya 2-3 orang yang beneran kerja. Beberapa masih belum tau apa yang akan dikerjakan, beberapa yang lain tidak bisa bekerja, dan bahkan ada yang tidak bawa laptop sama sekali. Tapi itu bukan persoalan, lagi pula agenda ini juga baru kali pertama. Masih perlu penyesuaian. Acara kali ini lebih banyak mengobrol -- ketimbang work -- tentang PyCon luar negeri, gambaran bagaimana proposal di review (ternyata beliau juga reviewer, wow sih), lalu ada juga pemabahasan tentang apa saja persiapan untuk menghadiri PyCon yang ada diluar negeri. Sisanya membahas tentang acara komunitas yang akan diadakan dalam beberapa waktu dekat, kegiatan lain yang bisa diadakan oleh komunitas Python Jogja, juga diskusi mengenai sedikit teknis ketika mengadakan acara, dsb.
Hari Sabtu 12 Juli 2025. Disaat orang lain memilih libur, mas Lutfi Zuchri Python Jogja justru mengadakan agenda Work From Cafe (WFC), mungkin supaya komunitas Python tidak melulu tentang conference/talks. Sesekali juga perlu mengikuti trend kerja dari kafe yang mulai menjadi gaya hidup pekerja remote di Jogja. Seperti yang ku duga, dari 10 orang yang datang hanya 2-3 orang yang beneran kerja. Beberapa masih belum tau apa yang akan dikerjakan, beberapa yang lain tidak bisa bekerja, dan bahkan ada yang tidak bawa laptop sama sekali. Tapi itu bukan persoalan, lagi pula agenda ini juga baru kali pertama. Masih perlu penyesuaian. Acara kali ini lebih banyak mengobrol -- ketimbang work -- tentang PyCon luar negeri, gambaran bagaimana proposal di review (ternyata beliau juga reviewer, wow sih), lalu ada juga pemabahasan tentang apa saja persiapan untuk menghadiri PyCon yang ada diluar negeri. Sisanya membahas tentang acara komunitas yang akan diadakan dalam beberapa waktu dekat, kegiatan lain yang bisa diadakan oleh komunitas Python Jogja, juga diskusi mengenai sedikit teknis ketika mengadakan acara, dsb.
·1 min
Salah jurusan bukan akhir dari segalanya
Salah memilih jurusan pendidikan bukan lah masalah besar. Ada banyak hal yang tidak sesuai dengan kehendak kita didunia ini. Kita punya rencana tapi semesta yang menentukan. Salah jurusan hanyalah satu dari sekian kesalahan yang mungkin terjadi setelah kita membuat keputusan. Kita bisa saja salah memilih pasangan. Salah memilih pekerjaan. Salah memilih teman, dan lain sebagainya. Cara terbaik menjernihkan pikiran rasa bersalah adalah dengan cara mengingat perjalanan hidup masih panjang dan mengingat kita bisa mati kapan saja. Dengan mengingat usia kita masih panjang, besok masih ada harapan bahwa kita akan membuat keputusan lebih baik. Bagaimana caranya? Introspeksi diri pahami dirimu sendiri. Tapi mengingat kematian, juga memberi kesan bahwa toh hidup hanya sementara, salah jurusan juga tidak akan dibawa mati. Emang apa gunanya jurusan di alam barzah? Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa manusia itu naif, manusia itu bodoh. Kita itu naif, kita itu bodoh. Setidaknya saya menganggap diri saya demikian.
Salah memilih jurusan pendidikan bukan lah masalah besar. Ada banyak hal yang tidak sesuai dengan kehendak kita didunia ini. Kita punya rencana tapi semesta yang menentukan. Salah jurusan hanyalah satu dari sekian kesalahan yang mungkin terjadi setelah kita membuat keputusan. Kita bisa saja salah memilih pasangan. Salah memilih pekerjaan. Salah memilih teman, dan lain sebagainya. Cara terbaik menjernihkan pikiran rasa bersalah adalah dengan cara mengingat perjalanan hidup masih panjang dan mengingat kita bisa mati kapan saja. Dengan mengingat usia kita masih panjang, besok masih ada harapan bahwa kita akan membuat keputusan lebih baik. Bagaimana caranya? Introspeksi diri pahami dirimu sendiri. Tapi mengingat kematian, juga memberi kesan bahwa toh hidup hanya sementara, salah jurusan juga tidak akan dibawa mati. Emang apa gunanya jurusan di alam barzah? Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa manusia itu naif, manusia itu bodoh. Kita itu naif, kita itu bodoh. Setidaknya saya menganggap diri saya demikian.
·2 min
Hidup seperti apa yang ku dambakan?
"Hidup seperti apa yang ku dambakan?" Tanyaku ditengah perjalanan pulang kerumah sambil mengendarai sepeda motorku. Pertanyaan itu membuatku mengingat kembali semua hal yang telah berlalu beberapa tahun kebelakang. Aku bahagia dengan hidup yang ku jalani sekarang. Aku bangga dengan diriku sendiri, aku bangga dengan apa yang sudah ku capai. Aku sudah berdamai dengan banyak hal. Meskipun terkadang hidup berjalan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. "Apa lagi yang ku inginkan?" Tanya ku lagi. Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya tidak banyak hal yang ku inginkan. Lagi pula aku sudah berkeluarga. Aku hanya akan merawat keluargaku dengan baik. Aku akan bekerja lebih keras. Aku akan menikmati pekerjaanku dan melakukan yang terbaik. Aku akan terus belajar. Itu saja. Tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan selain melakukan yang terbaik. Membandingkan pencapaian diri sendiri dengan apa yang dicapai oleh orang lain hanya akan menghapus kebahagiaan yang sudah kucapai. Ternyata dunia yang kulihat sebelum berusia 30 tahun sama sekali tidak sama dengan dunia yang kulihat setelah menginjak 30 tahun. Banyak perdebatan yang tidak penting untuk dicampuri didunia ini.
"Hidup seperti apa yang ku dambakan?" Tanyaku ditengah perjalanan pulang kerumah sambil mengendarai sepeda motorku. Pertanyaan itu membuatku mengingat kembali semua hal yang telah berlalu beberapa tahun kebelakang. Aku bahagia dengan hidup yang ku jalani sekarang. Aku bangga dengan diriku sendiri, aku bangga dengan apa yang sudah ku capai. Aku sudah berdamai dengan banyak hal. Meskipun terkadang hidup berjalan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. "Apa lagi yang ku inginkan?" Tanya ku lagi. Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya tidak banyak hal yang ku inginkan. Lagi pula aku sudah berkeluarga. Aku hanya akan merawat keluargaku dengan baik. Aku akan bekerja lebih keras. Aku akan menikmati pekerjaanku dan melakukan yang terbaik. Aku akan terus belajar. Itu saja. Tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan selain melakukan yang terbaik. Membandingkan pencapaian diri sendiri dengan apa yang dicapai oleh orang lain hanya akan menghapus kebahagiaan yang sudah kucapai. Ternyata dunia yang kulihat sebelum berusia 30 tahun sama sekali tidak sama dengan dunia yang kulihat setelah menginjak 30 tahun. Banyak perdebatan yang tidak penting untuk dicampuri didunia ini.